20 Weeks

January 22nd, 2008 by 13mm4

13mm4076_2
 
Sebenere males banget mo ngisi blog tapi kalo diliat² koq g pernah d update blas. Sekalian memenuhi requeste temen² yang penasaran semua ma penampilanq saat ini…. :D
G ada bedane seh sama penampilanq yang kayak dulu. Perut juga g gedhe² banget la wong orange emang kecil koq ntar jadi g proporsional donk kalo perute gedhe badane tetep kecil hehe…hehe….
Tapi badan dah naik 6 kg, dedeke juga udah tambah besar. Tendangannya semakin terasa n kuat. Tendang terus aja Nak, kalo g nendang ntar jadi bingung sendiri. Ni seh ada fotone tapi cuma perute tok… hihihihi (males poto² padahal)
Lagian temen² ntar juga pada tau katanya bentar lagi mo kumpul² k Malang. Jangan lupa mampir k rumah ya….
Om… Tante… tak tunggu ya….. Jangan lupa oleh² nya hehehehe….. :D

Cinta itu……

April 30th, 2007 by 13mm4

Ingatkah saat kita dulu sedang jatuh cinta? Atau mungkin saat ini kita
tengah mengalaminya? Itulah yang sedang terjadi pada salah seorang sahabat saya.
Akhir-akhir ini tingkah lakunya berubah drastis. Ia jadi suka termenung dan
matanya sering menerawang jauh. Jemari tangannya sibuk ketak-ketik di atas
tombol telpon genggamnya, sambil sesekali tertawa renyah, berbalas pesan dengan
pujaan hatinya. Di lain waktu dia uring-uringan, namun begitu mendengar nada
panggil polyphonic dari alat komunikasi kecil andalannya itu, wajahnya seketika
merona. Lagu-lagu romantis menjadi akrab di telinganya. Penampilannya pun kini
rapi, sesuatu yang dulu luput dari perhatiannya. Bahkan menurutnya nuansa mimpi
pun sekarang lebih berbunga-bunga. Baginya semuanya jadi tampak indah,
warna-warni, dan wangi semerbak.

Lebih mencengangkan lagi, di
apartemennya bertebaran buku-buku karya Kahlil Gibran, pujangga Libanon yang
banyak menghasilkan masterpiece bertema cinta. Tak cuma menghayati, kini dia pun
menjadi penyair yang mampu menggubah puisi cinta. Sesekali dilantunkannya
bait-bait syair. "Cinta adalah kejujuran dan kepasrahan yang total. Cinta
mengarus lembut, mesra, sangat dalam dan sekaligus intelek. Cinta ibarat mata
air abadi yang senantiasa mengalirkan kesegaran bagi jiwa-jiwa
dahaga."

Saya tercenung melihat cintanya yang begitu mendalam. Namun, tak
urung menyeruak juga sebersit kontradiksi yang mengusik lubuk hati. Sebagai
manusia, wajar jika saya ingin merasakan totalitas mencintai dan dicintai
seseorang seperti dia. Tapi bukankah kita diwajibkan untuk mencintai Allah lebih
dari mencintai makhluk dan segala ciptaan-Nya?

Lantas apakah kita tidak
boleh mencintai seseorang seperti sahabat saya itu? Bagaimana menyikapi cinta
pada seseorang yang tumbuh dari lubuk hati? Apakah cinta itu adalah karunia
sehingga boleh dinikmati dan disyukuri ataukah berupa godaan sehingga harus
dibelenggu? Bagaimana sebenarnya Islam menuntun umatnya dalam mengapresiasi
cinta? Tak mudah rasanya menemukan jawaban dari kontroversi cinta
ini.

Alhamdulillah, suatu hari ada pencerahan dari tausyiah dalam sebuah
majelis taklim bulanan. Islam mengajarkan bahwa seluruh energi cinta manusia
seyogyanya digiring mengarah pada Sang Khalik, sehingga cinta kepada-Nya jauh
melebihi cinta pada sesama makhluk. Justru, cinta pada sesama makhluk dicurahkan
semata-mata karena mencintai-Nya. Dasarnya adalah firman Allah SWT dalam QS Al
Baqarah 165, "Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah
tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka
mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada
Allah.

Jadi Allah SWT telah menyampaikan pesan gamblang mengenai
perbedaan dan garis pemisah antara orang-orang yang beriman dengan yang tidak
beriman melalui indikator perasaan cintanya. Orang yang beriman akan memberikan
porsi, intensitas, dan kedalaman cintanya yang jauh lebih besar pada Allah.
Sedangkan orang yang tidak beriman akan memberikannya justru kepada selain
Allah, yaitu pada makhluk, harta, atau kekuasaan.

Islam menyajikan
pelajaran yang berharga tentang manajemen cinta; tentang bagaimana manusia
seharusnya menyusun skala prioritas cintanya. Urutan tertinggi perasaan cinta
adalah kepada Allah SWT, kemudian kepada Rasul-Nya (QS 33: 71). Cinta pada
sesama makhluk diurutkan sesuai dengan firman-Nya (QS 4: 36), yaitu kedua orang
ibu-bapa, karib-kerabat (yang mahram), anak-anak yatim, orang-orang miskin,
tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba
sahaya. Sedangkan harta, tempat tinggal, dan kekuasaan juga mendapat porsi untuk
dicintai pada tataran yang lebih rendah (QS 9:
24).
Subhanallah!

***

Perasaan cinta adalah abstrak. Namun
perasaan cinta bisa diwujudkan sebagai perilaku yang tampak oleh mata. Di antara
tanda-tanda cinta seseorang kepada Allah SWT adalah banyak bermunajat, sholat
sunnah, membaca Al Qur’an dan berdzikir karena dia ingin selalu bercengkerama
dan mencurahkan semua perasaan hanya kepada-Nya. Bila Sang Khaliq memanggilnya
melalui suara adzan maka dia bersegera menuju ke tempat sholat agar bisa
berjumpa dengan-Nya. Bahkan bila malam tiba, dia ikhlas bangun tidur untuk
berduaan (ber-khalwat) dengan Rabb kekasihnya melalui shalat tahajjud. Betapa
indahnya jalinan cinta itu!

Tidak hanya itu. Apa yang difirmankan oleh
Sang Khaliq senantiasa didengar, dibenarkan, tidak dibantah, dan ditaatinya.
Kali ini saya baru mengerti mengapa iman itu diartikan sebagai mentaati segala
perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Seluruh ayat-Nya dianggap sebagai
sesuatu yang luar biasa sehingga seseorang yang mencintai-Nya merasa sanggup
berkorban dengan jiwa, raga, dan harta benda demi membela
agama-Nya.

Totalitas rasa cinta kepada Allah SWT juga merasuk hingga
sekujur roh dan tubuhnya. Dia selalu mengharapkan rahmat, ampunan, dan ridha-Nya
pada setiap tindak-tanduk dan tutur katanya. Rasa takut atau cemas selalu timbul
kalau-kalau Dia menjauhinya, bahkan hatinya merana tatkala membayangkan azab
Rabb-nya akibat kealpaannya. Yang lebih dahsyat lagi, qalbunya selalu bergetar
manakala mendengar nama-Nya disebut. Singkatnya, hatinya tenang bila selalu
mengingat-Nya. Benar-benar sebuah cinta yang sempurna.

Puji syukur ya
Allah, saya menjadi lebih paham sekarang! Cinta memang anugerah yang terindah
dari Maha Pencipta. Tapi banyak manusia keliru menafsirkan dan menggunakannya.
Islam tidak menghendaki cinta dikekang, namun Islam juga tidak ingin cinta
diumbar mengikuti hawa nafsu seperti kasus sahabat saya tadi.

Jika saja
dia mencintai Allah SWT melebihi rasa sayang pada kekasihnya. Bila saja pujaan
hatinya itu adalah sosok mukmin yang diridhai oleh-Nya. Dan andai saja gelora
cintanya itu diungkapkan dengan mengikuti syariat-Nya yaitu bersegera membentuk
keluarga sakinah, mawaddah, penuh rahmah dan amanah… Ah, betapa bahagianya dia
di dunia dan akhirat…

Alangkah indahnya Islam! Di dalamnya ada syariat
yang mengatur bagaimana seharusnya manusia mengelola perasaan cintanya, sehingga
menghasilkan cinta yang lebih dalam, lebih murni, dan lebih abadi. Cinta seperti
ini diilustrasikan dalam sebuah syair karya Ibnu Hasym, seorang ulama sekaligus
pujangga dan ahli hukum dari Andalusia Spanyol dalam bukunya Kalung Burung
Merpati (Thauqul Hamamah), "Cinta itu bagaikan pohon, akarnya menghujam ke tanah
dan pucuknya banyak buah.